Tampilkan postingan dengan label cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita. Tampilkan semua postingan

5.10.14

Tentang Cinta dan Bahagia










Tentang Cinta...
Ia ada tanpa tahu kapan datangnya.
Aku tidak tahu, apa sebab mulanya perasaan itu muncul
Seperti banyak para pencinta mengatakan "tidak perlu alasan untuk mencintai seseorang"
Yang aku tahu, Allah punya alasan -tepat- mengapa mengirimkan rasa itu pada hatiku.


Tentang bahagia...Adalah ketika aku menyadari aku telah jatuh pada cintamu, pada hatimu

-----


05.10.2014
Hari ke-30 dimana kamu bukan lagi orang lain bagiku.


6.7.14

Perihal Rindu

Beberapa petikan percakapan antara ibu dan anak perempuannya :

I : Dek, hari ini buka puasa di rumah kan?
A : Umm, ngga mah, adek ada acara bubar sama temen komunitas
I : kan kemaren udah bubar sama komunitas
A : Iya, hari ini sama komunitas yang lain lagi maaah
I : hmm

*hening*

Si ibu berlalu dengan kecewa di hatinya
Si anak diam dengan gejolak pikirannya

*kemudian*

A : Mah, adek ga jadi pergi.


-------------------------------------------


A : Mama kenapa sih, tumbenan nyuruh adek masak, males tauuu
I : kan adek bentaran lagi mau jadi istri orang, dari sekarang harus mulai rajin dong masaknya
A : ih mama
I : Dapurnya udah kangen tuh digerayangin sama adek....... Dan mama kangen masakannya adek

*hening*

-------------------------------------------

A : Ma, kalau nanti adek nikah dan ga tinggal sama mama lagi, mama sedih ga? Hehehe
I : ngga
A : Loh kok gituuuu, berarti ga sayang dong
I : Mama udah mempersiapkan diri untuk itu. Akan sampai waktunya anak-anak mama tumbuh dewasa dan mandiri pada kehidupannya masing-masing. Buat mama, yang penting adek selalu sehat. Itu saja.

*hening*

#####

Saya belajar. Bahwa bersama bukan hanya tentang bertemu, berbincang dan menghabiskan masa dalam rentang yang lama.
Bersama adalah bagaimana melalui jutaan detik yang hadir dengan berbagi... berbagi rasa... berbagi makna.

Saya menyadari. Bahwa rindu bukan hanya soal jarak dan waktu.
Rindu adalah juga soal dekat, yang tersekat.


#####


Kepada yang hari-harinya begitu sibuk dengan dunia kerja dan rutinitas di luar kerja.
Selamat hari minggu!
Pulanglah.
Tempat dimana kau nyaman merebah dan melepaskan segala lelah ~ Rumah.
Di sana, akan kau temukan hati yang terus berdoa dan mata yang menatapmu penuh cinta
-juga rindu-

#####

Hari ini, saya menikmati minggu di rumah.
Melebur rasa dan makna dari detik yang terlalui bersama mama, yang sepertinya sedang merindukan anak perempuannya ini. Hehe

#####

Selamat berbuka di 8 Ramadhan

Saya berbuka dengan segelas teh hangat, beberapa buah kurma dan dengan cinta kedua orang tua saya ^_^

Kamu?


22.6.14

Sebuah Hubungan

Image and Video hosting by TinyPic


Cinta. Cukupkan ia sebagai pemicu dalam membina sebuah hubungan dan bumbu dalam mengarungi perjalanan.
Tidak perlu berlebihan. Pada prinsipnya ia bukanlah yang utama dan sejatinya ia selalu berubah.
Kadang bertambah. Kadang berkurang. Atau bisa jadi tiba-tiba hilang.

--------

Komitmenlah tiang utama yang akan mengharmonikan kebersamaan dua orang -yang mungkin- bahkan bertentangan.

Komitmen adalah perjanjian yang menjadi dasar kesejatian sebuah hubungan; yang tidak akan pernah kau temukan dalam ketidak-halalan ikatan.

--------

Untukmu,

Sampai jumpa pada perjanjian besar yang akan mengguncangkan Arsy-Nya
Sampai jumpa pada perjalanan panjang bernama kehidupan

Kelak, akan ada banyak cobaan dan hal-hal yang menggoyahkan.
Kembali pada komitmen, semoga kita mampu menjaganya bersama. Bukan hanya kamu, atau hanya aku.



18.5.14

Allah Punya Rencana

Image and Video hosting by TinyPick


Pada setiap rencana yang telah dirancang sempurna
Pada setiap cerita yang telah dirangkai indah
Ada halang melintang; ada jurang membentang
- di tengah perjalanan

***

Ya. Seringkali rencana hidup yang telah dirancang sebaik-baiknya ternyata berakhir begitu saja.

Tentu saya tidak akan pernah melupakan bahwa Allah adalah sebaik-baik Perencana.
Tentu saya meyakini bahwa ketika hal yang sangat saya harapkan ternyata tidak terkabulkan, maka Allah telah menyiapkan penggantinya dengan sesuatu yang lebih baik, sesuatu yang lebih saya butuhkan daripada sekadar apa yang saya harapkan.

"Bisa jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan bisa jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu.
Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui."
-QS. Al Baqarah : 216-

Ya. Saya yakini itu, seyakin-yakinnya.

Namun, tentu semuanya butuh waktu, untuk menerima dengan lapang dada segala rencana-Nya, menerima segala kecewa dan kerapuhan jiwa yang muncul tersebab ketetapan-Nya.
Putaran takdir menyampaikan saya pada rasa yang begitu resah. Ada cerita tak terduga yang muncul di tengah lembar kehidupan yang tidak saya harapkan.
Dan, saya bimbang apakah tetap meneruskan perjalanan dengan cerita yang tak lagi sama, atau saya harus memutar arah?
Segalanya terasa rumit dan kian menghimpit. Ahh, Allah :'(

Akan saya coba...... Akan saya coba menyikapinya dengan sederhana dan ketenangan rasa.
Ya. Akan saya jalani sebaik-baiknya setiap rencana yang telah diskenariokan-Nya, tak peduli berapa kali revisi cerita yang terjadi. Akan saya jalani!

***

Mungkin, ini cara Allah untuk membuat saya menyadari dan lebih berfokus pada perbaikan diri.


18.05.14
Saya yang kacau akhir-akhir ini.


10.5.14

Tidak Bisa Lupa

Image and Video hosting by TinyPic


Nyatanya...
Saya tidak pernah bisa untuk benar-benar lupa
Pada setiap cerita yang tertera tentang kita
Ada setia yang tak jua reda
Ada rasa yang tak kunjung berjeda
Ya....
Saya tidak pernah bisa untuk benar-benar lupa


Mari... lupakan!

Image and Video hosting by TinyPic


Baik. Mari kita lupakan
Cerita singkat yang pernah kita ciptakan
Cukupkan saja sebagai kenangan
Atau....
Anggap semuanya hilang

20.10.13

Memilihmu


Dear Allah

Pada 'dia' pilihan telah saya putuskan. Rangkaian perjalanan untuk menuntaskan penantian.

Selanjutnya, pada-Mu saya serahkan dan pasrahkan. Terminal akhir pemberhentian.

Pertemuan dalam kehalalan.

15.10.13

Uhibbuki Fillah Putri

Suatu malam, saat kita terlibat perbincangan syahdu tentang waktu yang telah berlalu, 13 tahun. Ya, lebih dari separuh usiaku sekarang. Kebersamaan kita, 13 tahun!

~ Saat aku mulai menada manja
"Putri, kita masih bisa terus sama-sama kayak gini ga ya? besok, besoknya lagi dan lagi? sampai nanti kita sama-sama menikah, menjadi ibu, sampai tua............."

~ Saat kamu menjawab pelan
"Tentu, selamanya.. sampai kita ke syurga"

Dan aku kelu, membisu. Ada semacam haru yang tiba-tiba beradu dalam kalbu.

---

Dear Putri,
Sungguh Allah Maha Sempurna dengan skenario yang Maha Indah
Menghadirkanmu adalah skenario indah dari-Nya, untukku
Sahabat, saudara. Ya, seperti itulah artimu, untukku
Ukhuwah, terjalin dan bertumbuh tanpa banyak bla bla bla.. sederhana saja

Dear Putri,
Pernah aku begitu terjatuh, rapuh. Ketika masalah datang dari segala arah tanpa ada kata sudah. Ketika keimanan perlahan merendah dan pengingkaran kepada-Nya merambat singgah. Allah hadirkan kamu untukku.
Utuh. Penuh. Merengkuh setiap gemuruh.


#Kita - Remaja
Siapalah aku yang tidak banyak tau.
Agama? Meraba.
Shalat sekedarnya saja karna tradisi jamaah di rumah - tanpa makna
Suatu waktu diperbincangan kita, kamu berkata bahwa shalat adalah amalan dengan derajat tanpa banding yang tidak bisa disanding dengan amalan lain. Adalah utama dan merupakan tiang agama.
Aku bergidik. Seketika hanyut dalam pemahaman yang terajut.
Terima kasih Putri - membuatku mengerti, memahami dan memaknai.

#Kita - Meranjak Dewasa
Mari bicara hati
Pernah ada rasa yang menyapa - sebut saja Cinta
Ia mengendap dalam senyap, mendekap
Aku -hampir- tergoda oleh romantisme mesra kawula muda
Membentang rasa, menuang rasa yang penuh gelora
Bertemu untuk membunuh rindu
Saling sapa untuk melabuh cinta
Betulkah cinta? Menganggap lumrah segala yang belum saatnya.
Astaghfirullah!

Dear Putri,
-lagi- Allah hadirkan kamu untukku.
Utuh. Penuh. Memberi teguh pada prinsip yang meluruh.

Suatu waktu diperbincangan kita, kamu bercerita tentang kisah cinta yang luar biasa, Sayyidina Ali dan Fatimah.
Dua insan yang saling mencintai dalam diam, terpendam
Cinta dalam bingkai yang benar, tanpa mengumbar-umbar
Sesuai syariat, bukan maksiat atau geliat hasrat
Bukankah Allah yang memilihkan cinta untuk kita cintai
Pula Allah telah tetapkan kapan waktu yang tepat untuk mempertemukan, mempersatukan
Penantian dan kerinduan itu akan tertuntaskan, meski entah kapan
- suatu saat, dalam pernikahan
Terima kasih Putri - membuatku tersadar dari prinsip yang mulai memudar

---

Manis. Kata yang tepat untuk menggambarkan segala hal tentangmu, tentang kebersamaan kita.
~ saat bertahun lalu kita pernah mengucap sumpah untuk menjadi sahabat selamanya
~ saat kita harus terpisah kota melanjutkan kuliah, beberapa tahun tanpa kabar dan tiba-tiba kamu mengirim pesan bertuliskan 'Uhibbuki fillah' - ini sangat romantis, sungguh.
~ saat kita berdiskusi dan saling mengisi ruang hati tentang mimpi-mimpi.
Hey, masih terus berdoa agar kelak Allah mengijabah pinta kita untuk dapat membuat rumah singgah bagi mereka yang papah-kan?
~ saat kamu selalu standby menjadi pendengar dari segala ceracau akan perasaanku yang kacau balau.
Ingat tidak, ketika malam-malam aku meminta bertemu denganmu saat itu juga, dan pada akhirnya kita sepakat untuk jumpa di sebuah parkiran mall yang berada di tengah-tengah antara rumah kita.
Malam itu, kamu berhasil menjadi penenang dari segala bimbang dan gamang-ku.

Ahh, terlalu banyak kenangan yang tersimpan
Jika perjalanan kehidupan ini diibaratkan sebuah film, maka bersamamu adalah adegan yang ingin selalu kumainkan kembali, lagi dan lagi
~ saat dengan kondisi lelah selepas bekerja kau tetap menemaniku belanja, bersedia menemaniku kemana-mana.
Hey, kau tidak ngedumel di dalam hati karna selalu aku repotkan kan? :p
~ saat kita meluangkan waktu untuk sekedar makan siang bersama disela-sela kesibukan kantor.
~ saat hujan membuat kita terjebak di sebuah gedung tua dan mengharuskan kita menanti ia mereda cukup lama, menikmati dingin belaian angin dan irama setiap rintiknya.
~ saat dimana saja kau merasa bosan dan ingin tidur, pundakku selalu menjadi sasaran sandaran kepalamu - menyebalkan!
~ saat pada apa saja kau merasa kesal, kepala kaki dan tanganku selalu menjadi sasaran cubitanmu - yang ini lebih menyebalkan!!
~ saat karna apa saja kita bertengkar dan saling berteriak dalam mobil, kau selalu menyuruhku turun dari mobilmu - yang ini teramat sangat menyebalkan!!!

Seberapa pun menyebalkannya kamu, tidak akan melebihi besarnya rasa sayangku loh Put ;)))
Hehe, jangan muntah ya..
Aku tidak sedang merayu, ini serius dari dalam yang terdalam ^_^

Well, finally.. Selamat ulang tahun Ukhti Putri Rizki Amalia Badri. *peluk cium*


*di malam yang syahdu
*Rinda - yang setiap harinya semakin menyayangimu

7.10.13

Tujuh Oktober


***
Adalah dia, Hesty Natalia Silaban (tengah), teman seperjuangan di akhir masa perkuliahan yang dengan sejarah absurd saya panggil ia dengan sebutan Tante.
Si tomboy yang manis, energik, baik hati, yang selalu siaga membantu siapa saja.. karna itulah saya menjulukinya ibu peri.

Hai tan, hari ini tujuh oktober..
Hari yang bahagia untukmu, hari pernikahanmu..
Telah kutitipkan salam pada langit Medan,
Happily ever after yaa, selamat menempuh hidup baru bersama Abang :))

***
Adalah dia, Putri Oktaria (kanan), teman seperjuangan di akhir masa perkuliahan yang dengan sejarah absurd saya panggil ia dengan sebutan Mama.
Si tegas yang apa adanya, selalu tampak tidak peduli pada banyak hal, tapi aku tau dia seorang pengamat sejati, yang diam-diam memperhatikan.

Hai ma, hari ini tujuh oktober..
Hari yang bahagia untukmu, hari yang menggenapkan angka 25 usiamu.
Meski tidak seperti dulu, ada kue dan tiupan lilin di pagi hari ketika kau terbangun.. Tetap ada sebuah doa yang kupanjatkan kepada Pencipta untuk kebahagiaanmu, pencapaian citamu, dan keberkahanNya di setiap harimu.

---
Bertahun yang lalu adalah masa lalu yang telah berlalu
Kenangan. Tidak akan hilang. Selamanya dalam ingatan.
---

Guys, time flies yaa..

Akhirnya kita ada pada satu titik yang menjadi jawaban dari pertanyaan silam, "Bagaimana kita nanti, setelah berakhir masa kuliah dan kita berpisah?"

Palembang ~ Medan ~ Martapura
Ada jarak dengan hitungan berkilometer antara kita
Terbentang jalan dengan arah yang berbeda di hadapan kita
Tapi masih ada yang sama di hati kita, harapan untuk perjumpaan yang berikutnya. Iya kan?

Sejenak, biarkan saya membuka kembali bilangan hari yang pernah terlewati.
Indralaya, pada sebuah kos-kosan ukuran 3 x 5
Tempat dimana sekian waktu kita lalui bersama..
Berbagi ceria, tawa, canda..
Bertukar kisah.. cerita suka dan duka
Melukis asa.. pada cinta dan cita

#Suatu pagi
Hanya satu hal yang bisa membangunkan tidur kita.. Suara ibu penjual kue keliling yang begitu khas "kueeee... kueeee"
haha.. suara itulah yang menjadi alarm kita.

#Suatu siang
Sebuah pondok makan yang menjadi tempat favorit kita dengan menu kuah pindang yang tidak pernah alpa tersaji di meja.. menjadi tempat ternyaman kita bercengkrama.

#Suatu sore
Peluh membanjiri kita yang selesai berajojing ria :D
Pada taman yang asri dengan rerumputan dan pohon-pohon rindang di depan Auditorium Kampus, disitu kita biasa bersantai melepas lelah, sembari menikmati hamparan langit yang mulai menjingga.

#Suatu malam
Bintang-bintang menjadi saksi kegalauan
Duduk di teras kos-kosan, kita diam
Sunyi, hanya sesekali desah nafas berbalut kesah yang terdengar
Mengenang siang ketika kita berlari, tertatih merintih, memelas kasih dosen pembimbing... Ahh, Skripshit!!!
Kita tersihir pada imagi yang berkolaborasi..
Menyusuri realita yang mengalir tanpa tau kapan akan berakhir..

Hey, ingat janji kita malam itu?

Kita berucap dengan hikmat, bahwa kelak kita harus menjadi orang yang bijak, menapak jejak hidup tanpa takut pada kemelut yang menggelayut.

Kemudian berlanjut, kita berjanji bahwa kita akan menjadi anak yang berbakti.. menebus segala kerja keras orang tua demi kefoya-foyaan kita.
Mengganti gundah mereka dengan senyum merekah yang pernah kita jamah.

Nah, apa kabar semua harapan dan impian itu?
Apakah masih terlalu dini untuk menagih janji..

Sekarang, kita berada pada waktu bernama kini.. bukan dulu atau nanti

Kini.. bukan lagi kita yang diam berdiri
Pada setiap detik berharga yang berirama
Mari bergegas.. lari
Menguntai mimpi hingga ia bukan lagi ilusi
Bersama mentari sampai tiba senja hari

Cheers & Fighting
Keep our frienship till the last ya guys ;)

*kecup dan peluk hangat penuh cinta ~ @Rinda_LSari

5.10.13

Semangat Kawan!

Subuh tadi, saya menemukan belasan pesan dari seorang kawan.
Curhatan dia tentang hidup yang sedang diombang-ambingkan keresahan,
tentang doa-doa yang tak kunjung diijabah,
tentang harapan yang tak juga menjadi nyata.

---

Mencoba menyelami sisi hati yang sedang dia rasakan sekarang, sukses membuat mata saya berkaca-kaca.
Seseorang yang saya kenal begitu ceria, apa adanya, yang bahkan tidak pernah menampakkan beban hidupnya.
Ahh, betapa saya ingin ada di sisimu sekarang, kawan.. menguatkanmu.. menyemangatimu.

Kawan, ingat kalimat yang dulu seringkali saya ucapkan..

"setiap tahun itu sulit, setiap tahun itu lewat"

Saat ini, meski kita sedang berada pada masa yang suram, didera kesempitan dan merasakan kesedihan..

Percaya... ini hanya sementara saja.. akan berlalu kawan.

Percaya... di depan sana, Allah telah siapkan kemenangan untuk jiwa-jiwa yang tidak berputus asa dan menyerah kalah.

Bersabarlah...

Bukankah titik-titik air yang jernih dan menyejukkan itu berawal dari awan yang gelap..


2.10.13

..dan semua berubah..

Sedari pagi tadi di kantor ga ada kerjaan, bisa leyeh-leyeh dan selonjoran.
 nikmat, sangat!
Siangnya dapat traktiran.. nikmat, yang teramat!
Jelang senja, gerimis datang dan mulai mengikis sisi melankolis..
Ah, selalu!

---

Rindu. Mungkin bisa dibilang begitu.
Entah soal apa saya mengingatnya.. laki-laki yang saya panggil dengan sebutan kakak, laki-laki yang tujuh tahun lalu saya kenal pertama kali saat ospek, laki-laki yang menjadi incaran mata banyak wanita dengan gaya cool menawannya..
Entah bagaimana dulu kami menjadi begitu dekat, bahkan sangat dekat.. sebagai sahabat.
Banyak orang yang salah menafsirkan, "Kalian pacarankan? Iya kan?" - pertanyaan yang begitu bosan untuk kami menjelaskan.
Percuma! Toh pada akhirnya mereka tetap tidak percaya.
Makan berdua atau cengkrama di bangku taman jurusan yang sehari-harinya kami lakukan, mungkin itu alasan mereka menafsirkan kami pacaran.

"Tidak ada persahabatan sejati antara laki-laki dan perempuan Rin!" - pernah seorang kawan mengatakan itu padaku. Pernyataan yang sempat membuatku bimbang, gamang.
"Sungguh, kami hanya sahabat, thats it! Tidak ada rasa selain itu" - aku.
"Ya, lalu bagaimana dengannya? Apa kau benar-benar tau apa yang dia rasa?" - Entah.

Meski telah lama berpisah dari bangku kuliah dan kini kami telah berjarak lebih dari 675 mil sejak dia memutuskan untuk menerima pekerjaan di luar Sumatera, tidak ada yang berubah.
Meski komunikasi tidak se-intens seperti masa kuliah dan saling sapa cerita hanya bisa kami lakukan via telepon, tidak ada yang berubah.
Dia, laki-laki yang tetap setia mendengarkan segala kesah. Tidak ada yang berubah.
Pernah dia katakan maaf karena tempatnya bekerja yang jauh dari poros sinyal mungkin tidak akan bisa menjadi pendengar setia lagi setiap saat aku butuhkan.
Pernah pula dia katakan bahwa untuk mendapatkan sinyal dia harus menuju kota menempuh perjalanan dengan hitungan jam.. dan hal pertama yang dia lakukan adalah meneleponku - aku tersipu. Tapi kemudian kau bilang kau bohong, orang pertama yang kau telepon adalah ibumu dan setelah itu baru aku. Aku tetap tersipu.. dan terharu.

Persis enam bulan lalu, saya mengerti arti dari pernyataan "Tidak ada persahabatan sejati antara laki-laki dan perempuan".
Perbincangan kami terasa syahdu, sama seperti sore ini, gerimis luruh meriuh tapi tiba-tiba saja ambigu.
Tidak seperti perbincangan biasanya saat kau selalu memintaku untuk bercerita tanpa jeda dan kau sebagai pendengar setia, bahkan seringkali aku mulai lelah dan kehabisan kata kau tetap memaksaku untuk bicara, katamu kau hanya ingin mendengar suaraku saja.

Kali ini ada yang berbeda, aneh. Kau memintaku untuk diam, kau bilang ada hal penting yang akan kau sampaikan.. tapi tidak jua kudengar suara di seberang sana.
Kau bilang kau tidak tau harus mulai darimana sampai beberapa menit berikutnya kau bertanya..

"Maukah kau menungguku, 3 tahun? Ah tidak, sepertinya itu terlalu lama.. Maukah kau menungguku 2 tahun?" - seketika ada sesak yang meriak.

Seperti pintamu, aku diam.. diam seribu bahasa.. karena benar-benar aku tersontak dalam benak.
Kau kembali berkata bahwa sebenarnya semua yang kau rasa telah terpendam lama di semester pertama. Ya, cinta itu telah ada dan tertanam di hatimu 6 tahun yang lalu - Mustahil, aku menyanggah.

Katamu lagi, namaku telah begitu familiar ditelinga ayah dan ibumu, seseorang yang kau kenalkan sebagai pendampingmu kelak. 
Masih diam, hening mengisi setiap detik yang mengalir pelan. Ahh, aku benci ini, tak bisakah waktu berlari, cepat melesat hingga kekakuan ini tersudahi.

Parau, kau mencoba kembali bicara dengan terbata, kau ulangi pertanyaan yang sama, "Maukah kau menungguku? 2 tahun lagi aku akan kembali, menjadi pendengar setiamu tanpa kecuali, setiap hari," suaramu lirih. Tuhan, bisakah kau hentikan sekarang juga suasana ini. Sungguh aku benci.

Kembali pada waktu yang lalu, ingatanku terhenti pada episode dulu pertama kali aku mengenalmu. Pertemuan di ruang kelas dan sapa di koridor kampus adalah kebiasaan yang teramat biasa. Tidak seperti kebanyakan orang yang menilai saya si kaku yang pendiam, serius bahkan misterius hingga membuat mereka begitu takut sekedar menyapa. Dia berbeda. Dia datang perlahan, mengendap memasuki ruang yang kusebut nyaman, menawarkan ceria dan tawa dalam balutan cela.
"Gadis cengeng nan manja tapi selalu sok kuat di hadap semesta, berlagak mandiri yang sebenarnya terus mencari lengan kukuh sebagai penopang berdiri" - Ya, seperti itulah simpulannya tentang saya.
Si pesek yang jelek - pemalas - masakan yang tidak pernah enak atau penampilan yang terlihat rancu selalu menjadi peluru untuknya memburu wajahku yang memilu.. dan kemudian dengan antengnya dia tertawa lepas, puas. Kesal, tapi aku tak pernah menyesal - Ya, seperti itulah.

Rangkuman kisah yang dulu, sungguh tak pernah terpikirkan bahwa selama itu kau memendam kelu, saat aku bercerita tentang pria itu dan itu yang kusuka, ternyata diammu meramu cemburu.
Aku tidak tau semua itu. Sungguh aku tidak tau.. atau mungkin aku tidak pernah mau tau. Ahh.

"Rin," panggilmu ketika tak juga kau dengar satu kata dari mulutku.
Aku masih terpaku. Tidak percaya atau tepatnya aku tidak mau mempercayainya.

#lagi - kau bertanya yang masih sama.

Masa kuliah, lima tahun kita bersama, dalam segala hal kau membuatku menunggu.. dan aku menunggumu.
Ingat saat kau memintaku untuk makan bersama di tempat favorit kita? Aku selalu datang pertama.. dan aku menunggumu.
Ingat saat kau memintaku untuk menemanimu belanja, aku datang pertama.. dan lagi kau membuatku menunggumu.
Ingat saat kau memintaku nonton film terbaru di bioskop, aku datang pertama.. kembali menunggumu.
Berkali-kali dalam banyak hal aku menunggumu.

Tapi tidak kali ini..
Hati.. kupastikan bukan untukmu akan kuberi.

Ada isak yang coba kutahan.. dan aku tau dia juga begitu.
Kuseka mata yang berkaca.. dan aku tau dia juga begitu.

Perbincangan kami berakhir sampai disitu. Ya, benar-benar berakhir.

Sore itu, persis enam bulan yang lalu.
Semua berubah..

Tidak ada lagi dia, laki-laki yang pernah berkata akan menjadi pendengar segala cerita saya.
Ucapan selamat ulang tahun yang saya kirim padanya satu bulan lalu pun tak berbalas.. hanya tanda "R" yang setidaknya membuatku lega.. aku tau dia membacanya.

Entah apa.. kenapa?
Mungkin kecewa.. atau marah.. tapi aku tetap berdoa ini tidak akan selamanya.


Semoga waktu akan mampu menjadikan persahabatan kami kembali utuh..

*harapan saya diujung senja..